Jembatan pelangi

Jembatan yang melalui hutan bakau

Gedung Sejarah benteng belanda

Lokasi benteng belanda tersembunyi disebelah barat pulau dengan kondisi runtuh terkena abrasi air laut.

Sunrise

Sunrise dermaga timur pulau lancang dengan objek bagan

Dermaga Barat

Tempat bersantai dan bermain warga ketika waktu sore dan malam hari

Gudus selfie

Gundukan pasir tempat yang cocok untuk bersefie ria.

PULAU DEWATA DI JAKARTA


Siapa yang tak tahu dengan sebutan pulau dewata! Yah Pulau Bali dikenal dengan sebutan pulau dewata karena keindahan alam dan pantainya di sinyalir seperti syurganya dunia.
Jika ditanya tentang kota Jakarta pasti yang ada dibenak adalah kemacetan, banjir, sampah, kumuh, Padat. Namun siapa mengira Ternyata Keindahan alam dan pantai seperti layaknya di Bali bisa ditemukan di wilayah Jakarta.
Wilayah yang paling bungsu ditetapkan sebagai daerah administrasi dijakarta ini adalah kepulauan Seribu. Jadi Saat ini DKI Jakarta memiliki 6 wilayah kotamadya/kabupaten yaitu :

WARGA PULAU LANCANG MEMILIKI BAHASA SENDIRI

Masyarakat Pulau Lancang memiliki banyak perbedaan logat bahasa seperti pada umumnya masyarakat pulau-pulau lain dikepulauan seribu. Masyarakat pulau lancang ini justru lebih memiliki kesamaan dalam berbahasa dan logat bahasa yang digunakan dengan pesisir pantai Rawa Saban tangerang, penggunaan kosa kata bahasa sehari-hari oleh kedua masyarakat lingkungan tersebut, antara lain sebagai berikut:

1. ABONG-ABONG : Percuma
2. ALONG : Panen Ikan
3. AMBAK-AMBAKAN : Kacau / Acak-acakan
4. AMBALAYA : Berantakan
5. ANJIRAN : Beruntung / Hoki

IKAN HASIL TANGKAPAN NELAYAN PULAU LANCANG

Masyarakat nelayan Pulau Lancang yang sebagian besar masyarakatnya adalah nelayan, dan biasanya nelayan pulau lancang ini akan pergi kelaut antara jam lima sore hingga jam setengah tujuh pagi namun demikian ada juga yang pergi melaut antara jam enam pagi hingga jam 10 siang(biasanya nelayan pancing baronang dan nelayan slulup/bubu). Selesai melaut pukul 05.30 WIB ikan hasil tangkapannya kemudian dibawa ke pantai sekitar Pulau Lancang untuk dijual kepada Pelele I (tengkulak) yang sebelumnya memberikan modal kerja dan atau pinjaman kepada nelayan untuk konsumsi sehari-hari. Akibatnya nelayan Pulau Lancang tidak mempunyai alternatif pilihan untuk menjual kepada siapa hasil tangkapannya tersebut kecuali hanya kepada Pelele tersebut. Menurut teori ilmu ekonomi, struktur pasar yang demikian ini dinamakan struktur pasar yang menganut sistim Monopsoni dengan varian sistem ijon.

PROGRAM PRIORITAS YANG SEHARUSNYA DIBANGUN DI PULAU LANCANG

Jika kita menengok kembali kebelakang sebagian rumah-rumah penduduk yang berada di wilayah pesisir-pesisir pantai telah digusur, gubuk untuk merebus ikan yang telah didapat nelayan dari laut telah dimusnahkan oleh pemerintah setempat, larangan untuk membuat bagan tancap (tempat menagkat ikan) di bagian barat Pulau lancang sehingga hal ini mematikan sebagian mata pencaharian bagi perebus ikan dan tukang bagan hal ini dilakukan pemerintah setempat karena sebenarnya pemerintah kepulauan seribu memiliki program untuk menjadikan pulau lancang sebagai wisata andalan kedua setelah pulau untung jawa. Memang cukup beralasan namun kenapa sampai saat ini tidak terealisasikan dan tidak serta merta menjadikan perekonomian masyarakat pulau lancang menjadi lebih baik.

ALOKASI ANGGARAN 7 MILIAR TERMASUK JEMBATAN PULAU LANCANG

Untuk menarik minat para wistawan serta memudahkan mobilitas warga di Kabupaten Kepulauan Seribu, pemerintah setempat bakal memperbaiki dan menambah sejumlah fasilitas umum (fasum). Rencananya, Pemkab Administrasi Kepulauan Seribu akan memperbaiki Jembatan Cinta di Pulau Tidung serta memperbaiki dua dermaga lainnya yaitu Pulau Lancang dan Pulau Kelapa serta menambah dua dermaga di Pulau Tidung dan Pulau Pramuka dengan alokasi anggaran sebesar Rp 7 miliar. Nantinya, perbaikan dan penambahan jembatan maupun dermaga akan dilakukan pada tahun 2013 dengan cara dibetonisasi.